Jumat, 07 Oktober 2011

penemuan neutrino yang jauh lebih kecil daripada elektron

Belum lama berselang, tepatnya tanggal 5 Juni yang lalu, suatu berita
besar iptek muncul dari sebuah konperensi fisika “Neutrino 98″ yang
berlangsung di Jepang. Neutrino, salah satu partikel dasar yang jauh lebih
kecil daripada elektron, ternyata memiliki massa, demikian laporan dari
suatu tim internasional yang tergabung dalam eksperimen
Super-Kamiokande. Tim ahli-ahli fisika yang terdiri dari kurang lebih 120 orang dari
berbagai negara termasuk AS, Jepang, Jerman, dan Polandia tersebut
melakukan penelitian terhadap data-data yang dikumpulkan selama setahun oleh
sebuah laboratorium penelitian neutrino bawah tanah di Jepang.
Jika laporan ini terbukti benar dan dapat dikonfirmasi kembali oleh tim
lainnya maka akan membawa dampak yang sangat luas terhadap beberapa
teori fisika, terutama pembahasan mengenai interaksi partikel dasar, teori
asal mula daripada alam semesta ini serta problema kehilangan massa
(missing mass problem) maupun teori neutrino matahari.
Neutrino, atau neutron kecil, adalah suatu nama yang diberikan oleh
fisikawan dan pemenang hadiah Nobel terkenal dari Jerman: Wolfgang Pauli.
Neutrino adalah partikel yang sangat menarik perhatian para fisikawan
karena kemisteriusannya. Neutrino juga merupakan salah satu bangunan
dasar daripada alam semesta yang bersama-sama dengan elektron, muon, dan
tau, termasuk dalam suatu kelas partikel yang disebut lepton. Lepton
bersama-sama dengan enam jenis partikel quark adalah pembentuk dasar semua
benda di alam semesta ini.
Ditemukan secara eksperimental pada tahun 1956 (dalam bentuk anti
partikel) oleh Fred Reines (pemenang Nobel fisika tahun 1995) dan Clyde
Cowan, neutrino terdiri dari 3 rasa (flavor), yakni: neutrino elektron,
neutrino mu dan neutrino tau. Neutrino tidak memiliki muatan listrik dan
selama ini dianggap tidak memiliki berat, namun neutrino memiliki
antipartikel yang disebut antineutrino. Partikel ini memiliki keunikan karena
sangat enggan untuk berinteraksi. Sebagai akibatnya, neutrino dengan
mudah dapat melewati apapun, termasuk bumi kita ini, dan amat sulit untuk
dideteksi.
Diperkirakan neutrino dalam jumlah banyak terlepas dari hasil reaksi
inti pada matahari kita dan karenanya diharapkan dapat dideteksi pada
laboratorium di bumi. Untuk mengurangi pengaruh distorsi dari sinar
kosmis, detektor neutrino perlu ditaruh di bawah tanah. Dengan mempergunakan
tangki air sebanyak 50 ribu ton dan dilengkapi dengan tabung foto
(photomultiplier tube) sebanyak 13 ribu buah, tim Kamiokande ini menemukan
bahwa neutrino dapat berosilasi atau berganti rasa. Karena bisa
berosilasi maka disimpulkan bahwa neutrino sebenarnya memiliki massa.
Penemuan ini sangat kontroversial karena teori fisika yang selama ini
kerap dipandang sebagai teori dasar interaksi partikel, yakni disebut
teori model standard, meramalkan bahwa neutrino sama sekali tidak
bermassa. Jika penemuan neutrino bermassa terbukti benar maka boleh jadi akan
membuat teori model standard tersebut harus dikoreksi.
Penemuan neutrino bermassa juga mengusik bidang fisika lainnya yakni
kosmologi. Penemuan ini diduga dapat menyelesaikan problem kehilangan
massa pada alam semesta kita ini (missing mass problem). Telah sejak lama
para ahli fisika selalu dihantui dengan pertanyaan: Mengapa terdapat
perbedaan teori dan pengamatan massa alam semesta? Jika berat daripada
bintang-bintang, planet-planet, beserta benda-benda alam lainnya
dijumlahkan semua maka hasilnya ternyata tetap lebih ringan daripada berat
keseluruhan alam semesta.
Para ahli fisika menganggap bahwa terdapat massa yang hilang atau tidak
kelihatan. Selama ini para ahli tersebut berteori bahwa ada partikel
unik yang menyebabkan selisih massa pada alam semesta. Namun teori
semacam ini memiliki kelemahan karena partikel unik yang diteorikan tersebut
belum pernah berhasil ditemukan.
Dari hasil penemuan tim Kamiokande ini dapat disimpulkan bahwa ternyata
partikel unik tersebut tidak lain daripada neutrino yang bermassa.
Menurut teori dentuman besar (Big Bang) alam semesta kita ini bermula
dari suatu titik panas luar biasa yang meledak dan terus berekspansi
hingga saat ini. Fisikawan Arno Penzias dan Robert Wilson (keduanya
kemudian memenangkan hadiah Nobel fisika tahun 1978) pada tahun 1965
menemukan sisa-sisa gelombang mikro peninggalan dentuman besar yang sekarang
telah mendingin hingga suhu sekitar 3 Kelvin. Namun salah satu hal yang
masih diperdebatkan adalah masalah ekspansi alam semesta itu sendiri.
Apakah hal ini akan terus menerus terjadi tanpa akhir? Penemuan neutrino
bermassa diharapkan akan bisa menjawab pertanyaan yang sulit ini.
Bayangkan suatu neutrino yang sama sekali tidak bermassa, seperti yang
diperkirakan selama ini. Gaya gravitasi tentu tidak akan berpengaruh
sama sekali pada partikel yang tidak memiliki berat. Namun apa yang
terjadi jika neutrino ternyata memiliki berat? Dalam jumlah yang amat sangat
banyak neutrino-neutrino ini tentu akan bisa mempengaruhi ekspansi alam
semesta. Tampaknya ada kemungkinan ekspansi alam semesta suatu saat
akan terhenti dan terjadi kontraksi atau penciutan kembali jika ternyata
neutrino memiliki massa.
Terakhir masih ada satu lagi problem fisika yang akan diusik oleh hasil
penemuan ini yaitu problem neutrino matahari, dimana terjadi selisih
jumlah perhitungan dan pengamatan neutrino yang dihasilkan oleh matahari
kita.
Untuk keabsahan penemuan ini tim internasional dari eksperimen super
Kamiokande dalam laporannya juga mengajak tim-tim saintis lainnya untuk
mengkonfirmasi penemuan mereka. Namun menurut pengalaman di masa lalu,
laporan osilasi neutrino dan neutrino bermassa selalu kontroversi dan
jarang bisa dikonfirmasi kembali.
Untuk sementara ini para ahli harus sabar menunggu karena eksperimen
semacam ini hanya bisa dilakukan oleh segelintir eksperimen saja di
seluruh dunia. Yang pasti jika hasil penemuan ini memang nantinya terbukti
benar maka jelas dampaknya akan sangat terasa pada beberapa teori fisika
modern.

penerapan nano dalam berbagai bidang

Nanoteknologi telah mengenerate konsep-konsep baru dalam berbagai bidang iptek. Diyakini bahwa nanoteknologi akan membawa revolusi pada seluruh aspek kehidupan manusia dalam waktu yang singkat dengan dampak melebihi empat revolusi yang terjadi sebelumnya.Gambar 1 Revolusi nanoteknologi (manufaktur molekul) memberikan impak yang sebanding dalam waktu singkat dengan empat revolusi industri yang ditempuh dalam dua abad.
Area aplikasi nanoteknologi sangat luas dan menyentuh hampir seluruh Aspek kehidupan manusia. Sebagai contoh, pada bidang teknologi informasi (TI) di Indonesia kini terdapat sekitar 60 juta pengguna handphone. Nanoteknologi telah meningkatkan kemampuan dan performansi komponen handphone seperti IC, layar display, memori, antena, baterai dan lainnya sehingga tampak lebih ringkas namun semakin canggih. Perangkat elektronik lainnya seperti komputer juga mengalami evolusi yang sama.

Di bidang farmasi dan kesehatan, produk-produk kesehatan telah menggunakan partikel nano untuk meningkatkan efektifitas obat. Para pakar di bidang ini kini tengah mengembangkan nanoteknologi untuk drug targeted and delivery system. Obat kini didesain dapat mencapai target dengan dosis tertentu sehingga akan lebih efisien dan efektif. Termasuk terobosan dalam bidang ini adalah penggunaan material cerdas yang diimplantasi dalam tubuh manusia untuk kepentingan pendeteksian penyakit.



A. Pengenalan Nano Teknologi
Dalam presentasinya Profesor Yohanes Surya menjelaskan, masa depan teknologi akan bergeser menjadi Nano Technology. Nano artinya satu sepermiliar, satu Nano meter adalah sepuluh atom hydrogen. Menurut Yohanes Surya, contoh sederhananya bila tebal rambut 50.000 Nano meter, maka bisa dibayangkan bila tebal rambut itu dibelah menjadi 50.000 kali, dan hasil pembelahan ketebalan rambut, itulah yang disebut Nano Technology, dan itu merupakan teknologi di masa mendatang, teknologi sepermiliar meter.

Berkaitan dengan Nano Technology, Profesor Yohanes Surya lebih dulu menjelaskan apa itu teknologi, menurutnya teknologi adalah cara untuk mendapatkan sesuatu dengan kualitas lebih baik, lebih murah, lebih mudah dan lebih menyenangkan.. Dulu pada tahun 1930-an, waktu dari Jakarta ke Merauke ditempuh sekitar dua minggu, namun sekarang bisa dijangkau dengan 8 jam saja,” ujar Yohanes memberi contoh: Nano Technology Manipulasi Atom.
Prof.Yohanes Surya menjelaskan, Nano Technology adalah suatu teknologi yang mampu memanipulasi atom untuk menghasilkan sebuah produk menjadi lebih murah, lebih baik dan lebih menyenangkan. Beberapa contoh produksi yang bisa dihasilkan melalui Nano Technology ini adalah cat, packaging, industri ruang angkasa, solar energy, mengobati beragam penyakit, menyensor bangunan, mendeteksi bau gas, komputer, membuat orang awet muda, mempermudah seseorang jalan-jalan ke luar angkasa, dan banyak lagi.

Secara rinci pakar fisika ini mengungkapkan, melalui Nano Technology, seseorang bisa merubah-rubah warna cat rumah sesuai dengan keinginannya, dinding menjadi tidak mudah tergores, sebab dinding tembok tertutup rapat oleh nano pertikel. Suatu saat, untuk membersihkan jendela di gedung-gedung bertingkat tidak lagi diperlukan air, kaca cukup terkena matahari maka akan terjadi proses self cleaning. Begitu juga dengan ubin lantai, melalui Nano Technology, ubin bisa berganti warna sesuai dengan keinginan si pemilik.

B. Perkembangan Nano Teknologi

1. Carbon Nano-Chip

Nano Technology juga bisa berkembang menjadi Carbon Nano-Chip, yang merupakan bahan sangat kuat dan ringan, yang akan membuat revolusi kekuatan material. Artinya, Nano-Chip mampu mempengaruhi industri ruang angkasa, dan industri automotif. Tiap mobil yang dilapisi Carbon Nano-Chip, akan membuat si pengemudi tidak usah takut lagi jika terjadi kecelakaan. Sebab kendaraan yang ditumpanginya tidak akan penyok, karena kekuatan yang melapisi mobil tersebut mencapai seratus kali kekuatan baja. Begitu juga halnya dengan pesawat ruang angkasa. Bila badan pesawat dilapisi Carbon Nano-Chip, kekuatannya akan menjadi luar biasa sekali. Akibat yang ditimbulkan, pesawat akan mampu menahan gesekan dari benda-benda apa pun. Dan pesawat juga bisa mencapai daerah yang lebih jauh lagi. Melalui Carbon Nano-Chip ini, suatu saat seseorang tidak perlu lagi mencuci pakaian dengan air. Pakaian Nano, cukup dikibas-kibaskan saja, sudah bersih dan licin kembali. Jadi tidak perlu diseterika, dicuci atau dilipat.

2. Nano Solar Energy

“Saat ini, beberapa ilmuwan sedang meneliti bagaimana proses daun menyerap matahari. Daun tersebut ternyata bisa memanfaatkan energi sinar matahari sebesar seratus persen. Kalau kita bisa menggunakan tenaga matahari 25 hingga 50 persen saja, maka kita tidak perlu lagi membutuhkan minyak/solar. Bila teman-teman bisa menemukan metodenya, dampaknya luar biasa sekali,” ujar Profesor Yohanes Surya.


3. Nano Sensor

Salah satu kegunaannya mengobati penyakit kanker. Caranya, obat kanker dimasukkan ke dalam Nano robot kecil, lalu ditusukkan ke jari si penderita, dengan remote control, robot bisa diarahkan untuk mencari sendiri sel-sel kanker yang menyebar di dalam tubuh. Begitu sampai di tempat sel-sel kanker tersebut, robot akan melepaskan bom, kemudian sel kanker akan mati dan hancur. Sel itu akan keluar melalui pembuangan kotoran manusia bersama Nano Robot. Selain kanker, beragam penyakit juga bisa disembuhkan. Masih banyak Nano Technology lainnya. Selain energy, ada juga Nano air yang mampu mengubah air limbah, laut menjadi air tawar yang bersih, Nano Device dll.
Menurut National Science Foundation, total market Nano Technology mencapai satu trilyun dollar pada tahun 2015. Dan sekarang, diperkirakan sudah mencapai lima trilyunan dollar Amerika.
“Jadi, kalian semua sebagai generasi penerus mulai sekarang harus memikirkan bagaimana membangun negara kita ini melalui Nano Techonology. Orang yang tidak bermain atau memanfaatkan Nano Technology akan habis. Kita harus care terhadap teknologi, sebab bangsa yang maju adalah bangsa yang memperhatikan teknologi”, ujar Profesor Yohanes Surya di hadapan peserta pelatnas fisika dan para undangan lainnya.


C. Pengembangan nanoteknologi dalam konteks ke-Indonesia-an
Nanoteknologi tidak dapat dihindari lagi entah kita mempersiapkan diri atau tidak. Dalam kenyataannya, Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang berupa kekayaan sumber daya alam baik berupa berbagai mineral alam sebagai bahan baku pembuatan produk dan sumber energi, dan keragaman hayati flora dan fauna dalam jumlah yang luar biasa. Namun, sumber daya tersebut masih belum banyak diberikan nilai tambah sehingga belum dapat dijadikan sebagai penentu daya saing bangsa.

Pemanfaatan sumber daya alam tersebut baru berupa eksploitasi dengan kuantitas yang besar dan belum banyak diolah sehingga masih bernilai sangat rendah (misalkan mineral pasir besi, Kuarsa, tembaga, emas dll). Dilain sisi, letak geografis dan jumlah penduduk yang sangat besar, menjadikan Indonesia menjadi pasar perekonomian yang menjanjikan. Oleh karena itu, pengembangan nanoteknologi harus dapat diarahkan untuk mengelola dan memberikan penambahan nilai secara signifikan bagi sumber daya alam Indonesia sehingga meningkatkan daya saing bangsa. Arah pengembangan nanoteknologi ini kelak akan menjadi back bone pembangunan nasional kita.

Beberapa fokus pengembangan nanoteknologi yang perlu dilakukan berdasarkan potensi yang dimiliki adalah:

1. pemanfaatan nanoteknologi untuk pembuatan nanomaterial yang ditargetkan untuk pensuplai bahan baku produk nano untuk aplikasi di bidang TI, transportasi, elektronik, dll
2. pemanfaatan nano-bioteknologi yang ditargetkan untuk peningkatan hasil pangan dan pertanian
3. pemanfaatan nanoteknologi di bidang farmasi dan kesehatan yang ditargetkan untuk peningkatan kualitas obat Indonesia
4. pemanfaatan nanoteknologi untuk pemenuhan dan konservasi energi nasional.



Penelitian dan pengembangan nanoteknologi di Indonesia sudah dimulai di beberapa lembaga riset (LIPI, BATAN, BPPT, LAPAN, MRC, dll) atau universitas (ITB, UI, ITS, Unand, UGM, dll). Oleh karena itu, perhatian dan intensitas penelitian nanoteknologi di Indonesia harus segera ditingkatkan, mengingat negara-negara lain juga belum lama merintisnya dan peluang serta potensi yang sangat besar yang dimiliki Indonesia. Kehilangan momen hanya menempatkan bangsa Indonesia di papan bawah persaingan dunia di masa mendatang. Untuk mengusung isu nanoteknologi ini diperlukan kerjasama yang erat dari semua kalangan baik industri, pemerintah, dan akademisi. Prospek nanoteknologi akan semakin cerah jika kolaborasi tersebut berjalan harmonis. Berawal dari ini, permasalahan bangsa diharapkan dapat terselesaikan sekaligus meningkatkan derajat bangsa di percaturan Internasional.

A. Pengertian Nano Sensor
Nanosensors adalah poin yang digunakan untuk menyampaikan informasi tentang nanoparticles ke macroscopic dunia. Walaupun manusia belum dapat mempersatukan nanosensors, prediksi mereka untuk menggunakan obat terutama mencakup berbagai keperluan dan sebagai gateways ke nanoproducts bangunan lainnya, seperti chip komputer yang bekerja di nanoscale dan nanorobots. Saat ini, ada beberapa cara yang diusulkan untuk mengembangkan nanosensors.
1. Prediksi aplikasi
Nanosensor juga sering digunakan ahli medis sebagai alat pendeteksi segala macam penyakit. Menggunakan obat terutama dari nanosensors berputar di sekitar potensi nanosensors akurat untuk mengidentifikasi sel atau tempat-tempat tertentu di dalam tubuh yang membutuhkan. Dengan mengukur perubahan dalam volume, konsentrasi, kecepatan dan beratnya, gravitational, listrik, dan magnetis kekuatan, tekanan, atau suhu di sel-sel tubuh, nanosensors mungkin dapat membedakan dan mengenali sel tertentu, terutama orang-orang yang kanker, pada tingkat molekuler untuk memberikan obat atau memantau perkembangan ke tempat-tempat tertentu di dalam tubuh. Selain itu, mereka mungkin dapat mendeteksi macroscopic variasi dari luar tubuh dan berkomunikasi perubahan lain nanoproducts bekerja di dalam tubuh.
Salah satu contoh melibatkan nanosensors menggunakan fluorescence properti kadmium selenide kuantum sebagai titik sensor untuk membuka Tumors dalam tubuh. Injecting oleh badan dengan jumlah titik tersebut, dokter dapat melihat di mana sel kanker atau tumor yang disuntik melalui titik-titik kuantum, yang dibangun khusus untuk mencari sel tubuh yang telah beresiko. Akibatnya, para peneliti yang bekerja untuk mengembangkan alternatif yang dibuat dari titik-titik yang berbeda namun tetap mempertahankan sebagian fluorescence properti. Secara khusus, mereka telah menyelidiki keunggulan seng sulfida titik kuantum, walaupun mereka tidak cukup teduh sebagai kadmium selenide.
Nano sensor juga dapat digunakan untuk mendeteksi spesifik DNA untuk mengenali eksplisit genetik cacat, mendeteksi secara otomatis tingkat gula untuk penderita diabetes. Oleh karena itu, dengan menggunakan pola proteomic dan campuran bahan-bahan baru, nanobiosensors juga dapat digunakan untuk mengaktifkan komponen dikonfigurasi menjadi hibrid substrat semikonduktor sebagai bagian dari sirkuit perakitan.
2. Nano Sensors Existing
Saat ini, fungsi nanosensors di dunia sebagai receptors stimulasi dari luar. Misalnya rasa bau terutama di dalam binatang yang sangat kuat seperti anjing, fungsi yang menggunakan receptors rasa nanosized molekul. Tanaman tertentu juga digunakan untuk mendeteksi nanosensors sinar matahari. Nanosensors menggunakan ikan-ikan untuk mendeteksi getaran disekitar air dan nanosensors juga dapat mendeteksi jenis kelamin serangga.
3. Metode produksi
Gambar A contoh dari molekul DNA yang digunakan sebagai starter untuk diri sendiri yang lebih besar berkumpul.
Gambar B sebuah atom kekuatan mikroskop gambar diri rakitan DNA nanogrid. Masing-masing DNA tegel diri berkumpul menjadi sangat memerintahkan periodik dua dimensi DNA nanogrid.
Saat ini terdapat beberapa cara untuk hypothesized menghasilkan nanosensors. Top-down cetakan dr logam yg ditulisi adalah cara paling terpadu yang sedang dibuat. memulai dengan blok yang lebih besar dari beberapa bahan dan ukiran dari bentuk yang dikehendaki. Diukir dari perangkat ini, terutama untuk digunakan dalam menempatkan microelectromechanical sistem khusus yang digunakan sebagai microsensors, umumnya hanya mencapai ukuran mikro, tapi yang paling baru-baru ini telah mulai untuk memasukkan nanosized komponen.
Cara lain untuk menghasilkan nanosensors adalah melalui metode bottom-up, yang melibatkan assembling dari sensor yang menggunakan komponen lebih kecil, Hal ini akan melibatkan pindah dari atom tertentu substansi satu per satu ke dalam posisi yang khusus, meskipun telah dicapai dengan menggunakan alat tes laboratorium seperti atomic force microscopes, masih terdapat kesulitan yang signifikan, khususnya untuk dilakukan secara masal, baik sebagai alasan untuk logistik dan ekonomi lemah. Kemungkinan besar, proses ini akan digunakan terutama untuk bangunan molekul starter diri assembling sensor.
Cara yang ketiga, yang menjanjikan hasil jauh lebih cepat, melibatkan masalah perakitan, atau “berkembang” nanostructures tertentu yang akan digunakan sebagai sensor. Pertama menggunakan beberapa bagian dari yang dibuat sebelumnya atau dibentuk nanostructure alami dan dalam atom mereka sendiri saja. Setelah terstruktur dan memiliki permukaan yang luar biasa yang akan membuatnya jauh lebih mudah untuk menarik molekul sebagai lanjutan dari pola ini, yaitu menangkap beberapa atom bebas dan melanjutkan ke bentuk yang lebih besar untuk membuat sendiri komponen nanosensors.
4. Dampak ekonomi
Walaupun nanosensor teknologi adalah bidang yang relatif baru, proyeksi global untuk penjualan produk yang menggabungkan nanosensors berkisar dari $ 0,6 miliar menjadi $ 2,7 miliar dalam waktu tiga sampai empat tahun terakhir ini. Nanosensor ini kemungkinan besar akan dimasukkan sebagai alat paling modern lanjutan yang digunakan dalam sistem komputer, karena terdapat potensi untuk menyediakan hubungan antara bentuk-bentuk lain dari nanotechnology dan macroscopic dunia yang memungkinkan developer untuk memanfaatkan potensi nanotechnology ke komputer miniaturize chips sedangkan mereka sangat memperluas potensi penyimpanan.
B. Versi lain dari perkembangan nano sensor
1. Nanotubes
Peneliti di MIT telah menemukan bahwa karbon nanotubes dapat menjadi sensor biologi sangat sensitif untuk mendeteksi satu molekul dalam sel hidup secara real time,mereka mempublikasikannya secara online dalam Alam Nanoteknologi, demonstrasi pertama nanoscale sensor yang dapat digunakan untuk mendeteksi dan menampilkan gambar beberapa jenis molekul dalam sel pada saat yang sama, dengan sensitivitas yang jauh melebihi dari standar alat untuk molekular imaging. Para peneliti menggunakan sensor untuk mendeteksi benda yang merusak DNA, kanker tertentu, termasuk obat dan toxins. Sensor yang akhirnya dapat digunakan untuk memantau efektivitas obat kemoterapi, melacak interaksi molekul dalam sel, dan tes untuk tingkat rendah toxins di lingkungan.
Michael Strano, seorang penulis dan sekutu profesor dari teknik kimia di MIT, mengatakan bahwa pekerjaan merupakan lompatan maju dalam tujuan untuk mengembangkan nanoscale sensor untuk mendeteksi molekul di dalam sel hidup. Struktur kecil yang digunakan untuk deteksi dan imaging fluoresce. Property ini berguna untuk biologi imaging karena inframerah cahaya dapat menembus jaringan lebih mendalam daripada cahaya yang terlihat.
Strano mengatakan bahwa sensor menawarkan beberapa keuntungan lebih penting teduh dyes. Mereka tidak hanya dapat mendeteksi dan menemukan molekul, tetapi berbagai jenis molekul akan mempengaruhi properti sebagai emitted cahaya berbeda. “Bila molekul mengikat ke sana, ia dapat mengubah panjang gelombang atau intensitas cahaya yang keluar,” ujar Strano. “Setiap toksin memiliki tanda tangan yang unik. Jadi anda tidak hanya mendeteksi ini, Anda dapat mengatakan sesuatu tentang jenis toksin itu atau jenis obat itu.” Dalam studi ini, para peneliti menggunakan dua jenis karbon nanotubes untuk membedakan antara empat kelas berbeda toxins dalam sel hidup, tetapi Strano percaya bahwa sensor dapat dikonfigurasi untuk mendeteksi berbagai molekul dalam satu sel sample.
2. Nanowire
Peneliti di Universitas California, Berkeley, telah membuat sirkuit terpadu pertama yang menggunakan nanowires sebagai sensor dan komponen elektronik. Dengan teknik pencetakan sederhana, grup mampu membangun besar array sirkuit yang seragam, yang dapat digunakan sebagai sensor gambar. “Tujuan kami adalah untuk mengembangkan semua nanowire-sensor” yang dapat digunakan dalam berbagai aplikasi, kata Ali Javey, seorang profesor teknik-listrik di UC Berkeley, yang memimpin penelitian.
Nanowires membuat sensor karena dimensi kecil meningkatkan sensitivitas. Nanowire berbasis sensor cahaya, misalnya, dapat mendeteksi hanya beberapa foton. Tetapi akan berguna dalam perangkat praktis, sensor yang harus terintegrasi dengan elektronika yang dapat memperkuat dan memproses sinyal kecil seperti itu. Ini telah menjadi masalah, karena bahan yang digunakan untuk sensing dan elektronik tidak dapat dengan mudah dikumpulkan pada permukaan yang sama.
Good alignment adalah perangkat yang diperlukan untuk bekerja dengan baik, karena sinyal optik tergantung pada polarisasi cahaya, yang pada akhirnya akan bergantung pada orientasi dari nanowires. Demikian pula, Transistor memerlukan tinggi derajat alignment untuk mengaktifkan dan menonaktifkan dengan baik.
3. Nano Faster,Smarter (gabungan dari nanotubes dan nanowire)
Karbon nanotube berbasis kimia sensor dapat mendeteksi rendah bagian per miliar dari konsentrasi gas rumah kaca. Ia juga dapat pergi dari satu mendeteksi gas lain ke dalam setengah menit. Biasanya, karbon-nanotube-atau-nanowire berbasis sensor, yang dapat sangat peka dalam mendeteksi gas.
Perangkat baru yang dibuat dari dua bagian utama yaitu sebuah ultrasmall gas chromatograph dan instrumen yang biasa digunakan dalam analisis kimia untuk memisahkan campuran dari gas rumah kaca. Untuk membuat versi mikro dari instrumen, para peneliti membuat sketsa yang zigzagging.
Output dari chromatograph feed ke dalam nanotube Sensor. Sensor yang mengandung karbon nanotubes mencakup ruang kecil antara emas electrodes dan berbagai adsorb pada gas karbon nanotubes. Dengan mengukur perubahan daya konduksi setelah mengikat gas ke nanotubes, para peneliti dapat mengidentifikasi gas.
Para peneliti menguji dengan sensor kimia yang meniru toksin syaraf sarin. Mereka dapat mendeteksi miliar molekul dari gas, sesuai dengan konsentrasi 150 miliar per bagian yang telah mendapatkan lebih tinggi sensitivitas dengan nanosensors. Peneliti di Naval Research Laboratory telah karbon nanotube-sensor yang mendeteksi 50 miliar per bagian dari sarin seperti kimia. Li Jing dan rekan-rekannya di NASA Ames Research Center telah meneliti karbon nanotube dan logam-oksida nanowire berbasis Sensor array yang mendeteksi tentang empat bagian per miliar nitrogen dioksida.
Perangkat yang baru, dengan bagian per miliar sensitivitas, mungkin kurang sensitif dibandingkan yang lain, tetapi masih dapat menemukan kegunakan yang praktis, Lebih penting lagi, ia menyajikan kunci kemajuan yang menggabungkan mikro kromatografi kolom dan nanotube sensor ke dalam perangkat portabel yang kecil.
Kesimpulan
Nanoteknologi telah merubah cara pandang manusia terhadap iptek itu sendiri. Dengan menguasai nanoteknologi manusia merasa dapat mewujudkan semua impiannya untuk menciptakan material apa saja di dunia ini. Dalam level nano (sepermilyar meter), atom demi atom atau molekul demi molekul dapat disusun dan dimanipulasi sesuai keinginan kita sehingga tidak terjadi pemborosan atau ketidakefisienan partikel seperti pada material dalam paradigma iptek selama ini. Oleh karena itu nanoteknologi telah men-generate konsep-konsep baru dalam berbagai bidang iptek. Diyakini bahwa nanoteknologi akan membawa revolusi pada seluruh aspek kehidupan manusia dalam waktu yang singkat dengan dampak melebihi empat revolusi yang terjadi sebelumnya.
Di bidang farmasi dan kesehatan, produk-produk kesehatan telah menggunakan partikel nano untuk meningkatkan efektifitas obat. Para pakar di bidang ini kini tengah mengembangkan nanoteknologi untuk drug targeted and delivery system. Obat kini didesain dapat mencapai target dengan dosis tertentu sehingga akan lebih efisien dan efektif. Termasuk terobosan dalam bidang ini adalah penggunaan material cerdas yang diimplantasi dalam tubuh manusia untuk kepentingan pendeteksian penyakit yaitu terobosan dalam perkembangan Nanosensor.

aspek keselamatan dalam penggunaan nuklir

RISTEK.go.id - Memasuki abad ke-21, kebutuhan akan energi listrik di berbagai belahan dunia semakin meningkat, termasuk Indonesia. Indonesia memiliki kebutuhan energi yang besar, energi nuklir merupakan sumber energi alternatif yang sangat potensial untuk memenuhi kebutuhan energi yang semakin meningkat di masa depan.
Dalam upaya penguasaan dan penerapan teknologi nuklir, diperlukan perhatian penuh terhadap aspek keselamatan, keamanan dan safeguard sebagai prioritas tertinggi. Sebagai negara yang telah menandatangani aktifitas nuklir untuk damai yang lebih dikenal dengan istilah Non-proliferation Treaty (NPT) dimana di bidang safeguard yang perlu diaplikasikan dalam ranah dual use, sebagai pengejawantahan dari Additional Protocol Annex II, atau protokol tambahan annex II.
“Pemerintah Indonesia menyatakan kembali komitmen Indonesia dalam menciptakan perdamaian dunia, khususnya pengawasan pemanfaatan bahan nuklir agar selalu ditujukan untuk maksud damai dan mencegah penyebaran teknologi pembuatan senjata nuklir,” ujar Menteri Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata pada kesempatannya di pembukaan Executive Meeting yang diselenggarakan oleh Bapeten Pada Kamis, 5 Mei 2011, bertempat di Ruang Auditorium Lt. 8 Kantor Bapeten.
Executive Meeting dengan tema Introduksi terhadap dual use material dan additional protocol Annex II, Implementasi dari Additional Protocol ini adalah sebagai tindaklanjut dari ratifikasi dari konvensi terkait dengan NPT of Nuclear Weapons. Hal ini dilaksanakan dalam upaya terus menerus pemerintah Indonesia memenuhi kewajiban terhadap dunia internasional dan memelihara hubungan baik dengan IAEA melalui implementasi perjanjian safeguards secara komprehensif (CSA).
Sesuai dengan Amanat Undang-Undang No 10 Tahun 1997 Tentang Ketenaganukliran bahwa tugas Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) sebagai lembaga pengawasan adalah menjamin masyarakat, lingkungan dan pekerja dari ancaman dan bahaya penggunaan, pemanfaatan zat radioaktif serta berbagai bentuk zat radioaktif yang terjadi karena proses alam. Mekanisme pengawasan dilakukan dengan tiga pilar utama yaitu Regulasi (peraturan), Perizinan maupun Inspeksi, dimana dalam melakukan pengawasan Bapeten selalu mengedepankan tiga hal penting yaitu safety, safeguard and security.
Dual use ini adalah implementasi industri atau sesuatu hal yang berkaitan dengan material yang dapat di manfaatkan atau didaur kembali menjadi bahan nuklir, sehingga dikhawatirkan dampaknya adalah penggunan bahan nuklir untuk tujuan non damai. Material tersebut dapat dijumpai bidang di militer di industri serta di lembaga penelitian. Untuk di ketahui bersama bahwa tugas dan amanat dual use tersebut diamanatkan kepada Bapeten, mengingat aktifitas dual use harus dilaporkan ke International Atomic Energy Agency (IAEA).
Permasalahan dual use ini tidak hanya menyangkut material dan produk yang mampu di daur, narnun pula perpindahan atau pengangkutan yang terkait dengan urusan export import juga menjadi hal yang penting untuk diawasi. Berbagai perangkat peraturan yang berkaitan dengan dual use ini telah di siapkan oleh Bapeten, di mana industri ataupun institusi yang sekiranya terkait dengan persoalan dual use di harapkan dapat melaporkan, menginformasikan serta mematuhi segala bentuk standar yang telah di tetapkan oleh Bapeten.
Berbagai perangkat regulasi telah disiapkan Bapeten terutama memuat tentang standard dual use di mana regulasi tersebut dituangkan dalam Peraturan Kepala Bapeten No 9 Tahun 2006 tentang Ketentuan protocol tambahan dan peraturan Kepala Bapeten No. 9 Tahun 2008 tentang pedoman Deklarasi Protokol Tambahan. Oleh karena itu dalam kesempatan Executive Meeting ini Bapeten berupaya menginformasikan dan mengajak berbagai kalangan tentang pentingnya dual use sebagai bagian yang harus diperhatikan. Executive Meeting berupaya member ruang dialogis dan bertukar pikiran seputar dual use dalam pemanfaatan ketenaga nukliran di Indonesia.
“Dari hasil Executive Meeting ini diharapkan dapat memahami dual use material dan additional protocol annex II sehingga benar-benar turut serta membantu perdamaian dunia malalui peaceful uses of nuclear energy,” tegas Kepala Bapetan, As Natio Lasman. (md/humasristek)

iptek nuklir menjawab tantangan global

Bandung : Kemampuan sains dan teknologi nasional dalam bidang sains nuklir perlu dikembangkan dalam rangka peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa serta mempercepat tercapainya tujuan nasional. Sejalan dengan itu, BATAN menyebarluaskan pemanfaatan sains dan teknologi nuklir di berbagai bidang dengan tujuan dapat memberikan dukungan nyata terhadap pembangunan nasional, seperti kesehatan, lingkungan, industri dan pendidikan dpat terwujud apabila ada komunikasi lintas bidang keilmuan terkait, sehingga dapat terjalin kerjasama antara pelaksana litbangyasa dan pengguna hasil litbang.
"Perlu diketahui tentang iptek nuklir adalah bahwa iptek nuklir ini menyangkut hal yang lebih luas daripada hanya sektor energi. Iptek nuklir juga telah, tengah dan akan terus dikembangkan pada sektor lain, seperti kesehatan, industri dan lingkungan hidup, dan dimanfaatkan untuk pemecahan berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat". Demikian hal yang disampaikan Deputi PDT Dr. Anhar Riza Antariksawan saat memberikan sambutan dalam Seminar Sain dan Teknologi Nuklir 2011 yang diselenggarakan di Auditorium FP MIPA UPI. Seminar dengan tema "Peran Sains dan Teknologi Nuklir di Bidang Kesehatan, Lingkungan, Industri dan Pendidikan dalam Mendukung Pembangunan Nasional" dibuka oleh Dekan FPMIPA UPI Dr. Asep Kadarohman,M.Si mewakili Rektor UPI, merupakan kegiatan rutin dua tahunan yang dilakukan PTNBR-BATAN Bandung sebagai forum diseminasi informasi hasil-hasil riset dan wadah komunikasi dengan pengguna, akademisi, peneliti dan stakeholder.

Empat topik disajikan dalam seminar ini, yaitu Anhar Riza Antariksawan membawakan tema Peran Teknik Nuklir Dalam Berbagai Bidang, Dr. Didi Teguh Chandra, MSi membawakan tema Pengembangan dan Implementasi Pendidikan Teknologi pada Pendidikan Dasar di Indonesia, Ir. Hari Wahyudi membawakan tema Peran Teknik Analisis Nuklir dalam Permasalahan Lingkungan dan Ir. Riko Mudayana membawakan tema Aplikasi Teknik Nuklir dalam Industri Perminyakan. Kerjasama PTNBR-BATAN Bandung dengan Fakultas Pendidikan MIPA (FP MIPA) Universitas Pendidikan Indonesia dalam rangka menumbuhkembangkan peran sains dan teknologi nuklir di berbagai bidang. Acara dihadiri oleh lebih 250 peserta mahasiswa dari berbagai universitas diantaranya UPI, ITB, Universitas Ahmad Yani Bandung, Universitas Indraprasta PGRI Jakarta, Universitas Suryadarma Jakarta, UIN Sunan Gunung Djati Bandung serta Institut Teknologi Nasional Malang. Selain itu juga hadir beberapa tamu undangan dan segenap karyawan BATAN.
Anhar  mengatakan bahwa iptek nuklir telah menunjukkan kontribusi manfaat besar terhadap kesejahteraan masyarakat. "Produk teknik nuklir telah banyak diaplikasikan di berbagai bidang, untuk itu daya inovatif peneliti harus terus menerus dikembangkan sehingga hasil-hasil litbng baru senantiasa menawarkan kemajuan dari hasil sebelumnya" pungkas Anhar.
Pada saat yang sama diselenggarakan pula pameran hasil litbang oleh BATAN dan UPI. Hasil dari kegiatan ini diharapkan dapat menjadi wahana pertukaran ilmiah untuk mengkaji dan menyebarluaskan hasil litbang khususnya yang terkait dengan teknik nuklir, sehingga dapat ditingkatkan pemahaman yang lebih baik bagi masyarakat. Meningkatkan kerjasama yang berkesinambungan antar peneliti, akademisi, praktisi dan stakeholder dalam mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat sesuai tujuan nasional bangsa. (AG)

fisika modern

Fisika modern merupakan salah satu bagian dari ilmu Fisika yang mempelajari perilaku materi dan energi pada skala atomik dan partikel-partikel subatomik atau gelombang. Pada prinsipnya sama seperti dalam fisika klasik, namun materi yang dibahas dalam fisika modern adalah skala atomik atau subatomik dan partikel bergerak dalam kecepatan tinggi. Untuk partikel yang bergerak dengan kecepatan mendekati atau sama dengan kecepatan cahaya, perilakunya dibahas secara terpisah dalam teori relativitas khusus. Ilmu Fisika Modern dikembangkan pada awal abad 20, dimana perumusan-perumusan dalam Fisika Klasik tidak lagi mampu menjelaskan fenomenafenomena yang terjadi pada materi yang sangat kecil. Fisika Modern diawali oleh hipotesa Planck yang menyatakan bahwa besaran energi suatu benda yang beosilasi (osilator) tidak lagi bersifat kontinu, namun bersifat diskrit (kuanta), sehingga muncullah istilah Fisika Kuantum dan ditemukannya konsep dualisme partikel-gelombang. Konsep dualisme dan besaran kuanta ini merupakan dasar dari Fisika Modern. Dalam makalah ini dibahas konsep, hipotesa dan eksperimen yang menjadikan landasan pengembangan fisika modern serta penerapan fisika modern, dalam berbagai bidang seperti kedokteran, telekomikasi, dan industri.

implementasi fisika kuantum dalam self developement

Saat ini dunia telah memasuki abad Quantum. Segala sesuatu bisa terjadi secara instan dan begitu cepat. Banyak istilah Quantum yang bermunculan. Di dunia pendidikan kita mengenal Quantum Learning dan  Quantum Teaching yang merupakan suatu metode  percepatan dalam pembelajaran. Metode Quantum ini mengarah kepada cara memaksimalkan penggunaan otak kiri dan kanan, yaitu bagaimana membuat suatu lompatan proses belajar yang lebih cepat daripada metode konvensional.
Namun, ketenaran istilah Quantum ternyata tidak hanya dimonopoli oleh dunia pendidikan, tapi hampir segala bidang seperti dunia bisnis, manajemen, dunia anak, termasuk dunia spritual, sehingga kita mengenal perpaduan istilah Quantum dengan beragam kata-kata lain seperti Quantum Bisnis, Manajemen Quantum, Quantum do’a, Quantum Power, Quantum Energi, Quantum Ikhlas, dan lain sebagainya.
Pada tulisan ini, penulis akan membahas korelasi antara Ilmu  Sains dan Ilmu Sosial (Humanistis) yaitu Fisika Quantum dalam pengembangan kepribadian diri (Self Development) dengan pendekatan metode Quantum Ikhlas. Metode Quantum Ikhlas sendiri diperkenalkan oleh Erbe Sentanu yang merupakan suatu metode pengembangan diri dan meraih kesuksesan melalui manajemen gelombang frekuensi jantung dan perasan hati serta mengeksplorasi kesadaran kuantum agar bisa merasakan kebahagiaan dan mewujudkan impian secara cepat.
Terlebih dahulu penulis akan membahas tentang latar belakang perkembangan fisika kuantum dan selanjutnya membahas korelasi antara fisika kuantum dengan kehidupan dan hal-hal yang bersifat humanistis dan bagaimana pengaruh hukum tarik-menarik. Dan penulis juga membahas sekilas tentang Quantum Ikhlas.  Harapan penulis, semoga pembaca dapat mengambil manfaat dari tulisan ini.

PEMBAHASAN
Fisika Klasik vs Fisika Kuantum
Di dalam fisika terdapat dua pandangan, yaitu fisika klasik dan fisika kuantum. Fisika klasik dipelopori oleh Newton, sehingga disebut juga dengan pandangan fisika Newtonian. Konsep dari fisika Newtonian  adalah analitik, mekanistik dan deterministik. Dimana fenomena fisika yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari dan yang ada di semesta dibahas secara makroskopis (dalam skala makro) dan dapat diuraikan secara analitik berdasarkan hukum-hukum fisika yang pasti.   Bila keadaan awal diketahui dan semua medan gaya yang berpengaruh diperhitungkan maka perilaku suatu benda (posisi dan momentum, energi, dst) untuk waktu berikutnya dapat ditentukan. Hukum fisika ini dapat diterapkan mulai dari hal sederhana seperti jatuhnya buah apel hingga untuk perhitungan posisi planet-planet dalam tatasurya. Salah satu contoh yang menakjubkan dari hasil perhitungan Fisika Newtonian ini adalah ramalan tentang waktu gerhana bulan atau matahari sampai dalam orde detik dan ternyata cocok dengan hasil pengamatan.
Cara berfikir fisika klasik ini telah memicu kemajuan teknologi yang dimulai dengan revolusi industri di Eropa. Mesin-mesin dirancang dengan disain berdasarkan perhitungan analitik-mekanismitik yang pasti. Dan dalam tatanan filosofi, alam semesta merupakan mesin raksasa yang berputar secara terus menerus dan dapat diprediksi.
Pada akhir abad ke 19, para ilmuwan mulai membuat peralatan untuk investigasi benda-benda atom yang sangat kecil. Mereka menemukan sesuatu yang membingungkan.  Konsep fisika Newtonian tidak mampu lagi menjelaskan atau memprediksi apa yang mereka temukan di laboratorium. Ternyata kesuksesan fisika Newtonian hanya berlaku pada dunia makroskopis sebatas benda yang kasat mata dan bergerak dengan kecepatan jauh di bawah kecepatan cahaya. Fisika klasik terbukti gagal untuk menjelaskan fenomena mikroskopik pada skala atom. Sejak itu, muncul  ilmu fisika modren yang meliputi fisika kuantum yang dipelopori oleh Bohr, Heisenberg, Schodinger dan lain-lain,  dan teori  relativitas yang diungkapkan Einstein.
Fisika kuantum mempunyai implikasi yang sangat luas pada perubahan peradaban manusia. Penjelasan tentang atom, molekul dan zat padat telah melahirkan material semikonduktor, laser, dan chips mikroskopis yang menghasilkan akselerasi kemajuan di bidang teknologi dan informasi. Implikasi filosofis fisika kuantum lebih dasyat diantaranya tentang prinsip ketidakpastian Heisenberg  dan participating observer (hasil eksperimen tergantung pada pengamat dan suatu realitas tidak akan terjadi sebelum kita benar-benar mengamatinya) sehingga pada dunia subatomik, hukum fisika tidak lagi merupakan suatu kepastian, tetapi gerak partikel diatur oleh konsep probabilitas.
Dalam teori kuantum setiap keadaan partikel (posisi, momentum, energi, dst) dihubungkan berdasarkan suatu eksperimen. Ketika formulasi telah dirumuskan maka perilaku partikel dapat diprediksi. Schrodinger menunjukan bahwa perilaku partikel dapat ditunjukan oleh sebuah persamaan matematis gelombang. Namun, persamaan ini tidak memberikan informasi apapun tentang keadaan partikel sebelum suatu eksperimen benar-benar dilakukan, dengan kata lain persamaan tersebut meramalkan dua hasil kemungkinan secara sepadan. Dalam percobaan celah ganda, tampak bahwa hasil pengamatan tergantung kepada cara eksperimen dilakukan. Partikel tersebut tidak punya sifat ”asli”. Dan dalam  sebuah eksperimen lain yang dikenal dengan kucing Schrodinger (Dewiit, 1970) bahwa partikel mempunyai sifat dualisme yaitu bisa dipandang sebagai partikel dan sebagai gelombang yang disebut dengan dualisme gelombang partikel merupakan konsekuensi pengembangan teori Kuantum.
Pandangan yang menunjukan indeterminisme ini menimbulkan kontroversi yang cukup ramai di kalangan ilmuwan. Bahkan Einstein yang pada awal turut serta membangun teori Kuantum (pada kasus efek fotolistrik) menentang konsekuensi filosofis teori Kuantum ini, sampai-sampai dia berucap ”Tuhan tidak bermain dadu”. Dalam debat melawan Bohr dan kawan-kawan, argumentasi Einstein tentang determinisme selalu dapat dipatahkan. Sehingga sampai saat ini teori Kuantum yang meskipun ”agak edan” tetapi terbukti merupakan teori yang dapat menerangkan dunia mikroskopis dan mempunyai manfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Memasuki Realitas Kuantum
”Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) baik di bumi dan di langit” (QS. Yunus : 61).
Apa sebenarnya yang akan terjadi ketika sebuah benda dibelah terus-menerus hingga ke tingkat materi yang sangat kecil. Dan materi terkecil itu pun terus dibelah dengan alat pemecah atom partikel accelerator ?. Berdasarkan berbagai penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan fisika kuantum, dapat dijelaskan bahwa suatu benda padat merupakan kumpulan dari molekul. Sementara molekul itu berasal dari semua atom dan partikelnya. Dan partikel subatom yang sangat kecil itu berasal dari suatu energi vibrasi (getaran) halus yang dinamakan quark, string atau biasa disebut quanta yang ”tak tampak” wujudnya.
Segala sesuatu di seluruh alam semesta ini merupakan bagian dari energi quanta. Apapun yang kita lihat di sekeliling kita tersusun dari energi quanta. Di level quanta semua benda sebenarnya menyatu dan tidak terpisah. Jika semua benda diinvestigasi dari dekat-dengan mikroskop nuklir misalnya-maka tampak jelas bahwa mereka tidaklah padat sama seklai, melainkan terdiri dari rongga-ronga yang berisi getaran energi quanta yang bergerak sedemikian cepatnya sehingga ”terlihat” padat oleh indra penglihatan kita dan ”terasa” padat oleh indra peraba kita. Seperti film kartun yang tampak bergerak di layar TV padahal sebenarnya merupakan kumpulan gambar tak bergerak yang dipaparkan secara cepat sehingga terlihat hidup. Inilah yang disebut ilusi atau kefanaan.
Hal yang menarik dari realitas kuantum ini adalah bahwa pada level yang semakin dalam dan halus, energi yang dikandungnya justru semakin besar. Energi nuklir yang lebih halus misalnya, berjuta-juta kali lebih dahsyat dibandingkan energi kimia. Kekuatan kuantum adalah kekuatan alam yang belum banyak dimanfaatkan secara tepat oleh kebanyakan orang. Padahal realitas kuantumlah yang harus kita ubah sebelum realitas fisiknya bisa kita lihat dan nikmati. Dan realitas kuantumlah ini sebenarnya yang kita akses dan kita olah dalam kehidupan keseharian kita. Kemudian, muncul pertanyaan bagaimana unsur quanta ini memberi andil bagi kehidupan kita, bagaimana cara kerjanya pada pikiran, perasaan dan terkabulnya pengharapan kita pada sesuatu hal? Bisakah kita mengatur energi ini untuk mengubah nasib menuju lebih baik?
Tampak
Dunia Kenyataan Dunia Kehidupan
Benda Nasib
Molekul
Fisika Klasik
Karakter
Atom Kebiasaan
Partikel Tindakan
Quanta
Fisika Kuantum
Pikiran
Alam Energi Perasaan
Tak Tampak
Quantum Connectin. Hubungan Alam Perasaan dan Alam Kuantum
Hukum Tarik Menarik (The Law of Attraction)
“Aku sesuai dengan prasangka hambu-Ku kepada-Ku” (hadist Qudsi).
Seperti yang telah dijelaskan oleh Fisika Kuantum, seluruh isi alam pada intinya hanyalah getaran vibrasi semata. Getaran gelombang vibrasi bertingkat dari getaran yang paling lambat sampai getaran yang paling cepat. Benda memiliki gelombang yang paling lambat getarannya adalah semua yang bisa diraba, dilihat, dikecap, dicium dan didengar. Dan benda yang gelombang getarannya paling cepat ialah realitas yang ghaib (tidak tampak) dan hanya bisa dirasakan seperti kebahagiaan, cinta dan kasih sayang. Semua benda yang tidak tampak seperti pikiran dan perasaan memiliki getaran vibrasi yang lebih cepat dan lebih kuat. Dan siapa yang terampil menggunakannya akan memiliki kehidupan yang lebih mudah dan lebih baik keadaannya.
Untuk  meraih dan menikmati sukses hidup yang total tanpa hambatan, kita perlu menyadari bahwa  hidup dapat  dianalogikan  seperti  seorang pelukis yang dihadiahi sebuah kanvas maha besar lengkap dengan semua peralatan gambar yang dibutuhkan.  Kita  bebas melukiskan apa saja yang ingin kita buat. Apakah lukisan yang indah dan bermakna atau lukisan yang jelek dan tidak bermakna.
Demikian pula halnya dengan alam semesta, sesuai dengan teori quantum bahwa inti dari alam semesta pada dasarnya adalah getaran vibrasi semata. Apa yang kita pikirkan dan yang kita lakukan akan memancarkan getaran yang nantinya akan menciptakan gelombang kepada alam semesta dan selanjutnya alam akan merespon sesuai dengan yang kita pancarkan. Hukum daya tarik menarik (The Law of Attraction) menyatakan bahwa ” Sesuatu akan menarik pada dirinya segala hal yang satu sifat dengannya.” Dan Elizabeh Towne juga menyatakan bahwa manusia adalah magnet, dan setiap detail peristiwa yang dialaminya datang atas daya-tarik (undangan)nya sendiri.  Ini menjelaskan bahwa diri kita adalah sebuah magnet besar yang selalu menarik apa saja sesuai dengan fokus dari apa yang sedang kita pikirkan dan rasakan. Sehingga jika kita berpikir kesulitan, kita tidak akan bisa menarik kemudahan Jika kita berfikir kekurangan, kita tidak bisa menarik kekayaan. Jika kita berpikir gemuk, kita tidak bisa menarik kurus. Oleh karena hal tersebut bertentangan dengan hukum tarik-menarik yang berlaku. Jadi biasakanlah diri kita dengan hukum tarik-menarik sehingga kita dapat menggunakan dengan sengaja untuk menarik segala sesuatu yang kita inginkan.
Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa kita sebenarnya ikut menciptakan kenyataan hidup kita sendiri, apapun kenyataan yang terjadi. Melalui kekuatan hukum tarik-menarik kita menarik apa pun yang paling sering kita pikirkan, apakah kita menginginkannya atau tidak. Jadi, jika kita selalu memikirkan apa ”yang kita suka”, hidup kita akan dipenuhi oleh hal itu. Dan sebaliknya, jika kita selalu memikirkan hal-hal ”yang tidak kita suka” maka yang akan terjadi dalam hidup kita pun akan mencerminkan hal itu.
Tuhan selalu mengabulkan doa setiap orang. Dan Ia mengabulkan doa yang ada di hati manusia, bukan yang terucap di mulut. Yang ada di hati adalah sama dengan apa yang selalu kita pikirkan (fokuskan). Jadi, ketika kita memikirkan sesuatu (positif atau negatif) terus menerus, artinya kita sedang mengarahkan energi vibrasi kita ke sana. Oleh karena sifat pikiran kita yang luar biasa, energi tersebut mulai berkumpul untuk akhirnya mewujudkan (menarik) sesuatu yang sesuai dengan fokus pikiran kita.

Quantum Ikhlas
Kebanyakan orang meyakini bahwa dalam hidup ini ia harus berjuang meraih keinginannya dengan berusaha keras, membanting tulang hingga tetes darah penghabisan. Tuntunan agama menjanjikan berbagai kemudahan atau kesuksesan akan datang menghampiri jika dalam ikhtiarnya manusia berhasil bersyukur, menikmati prosesnya, dan menyerahkan seluruh urusan dan kepentingan hanya kepada Tuhan. Inilah kompetensi ikhlas.
Ikhlas sebagai keterampilan atau skilI, yang lebih bercirikan  silent operation dari pikiran dan perasaan yang ”tak tampak” memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Ikhlas bukan hanya diucapkan di bibir atau dipikirkan di kepala, melainkan keterampilan unutk menciptakan ”peristiwa keikhlasan” di dasar hati yang terdalam.
Nasib seseorang mencerminkan karakternya. Sementara karakter itu berasal dari semua kebiasaan serta tindakannya. Dan tindakannya berasal dari pikirannya yang bermuara dari perasaannya. Nasib, karakter, kebiasaan dan tindakan adalah sesuatu ”yang tampak”. Sementara pikiran dan perasaan adalah energi kuantum ”yang tak tampak”. Dan kenyataan kuantum ini mengatakan bahwa kita bisa ”mengatur” perasaan untuk mengubah nasib kita.
Di dalam buku terbarunya, The Spees of Trust, Stephen M.R. Covey menuliskan : untuk meraih tujuan hidup pribadi dan bahkan di dunia korporat ”tidak ada sesuatu yang bisa melebihi kecepatan trust”. Memang benar, sifat percaya kepada orang lain berasal dari rasa percaya terhadap diri sendiri dan Tuhan adalah salah satu unsur utama ikhlas. Sehingga aplikasinya tentu akan mengaktivasi gerakan kuantum yang memiliki daya dorong, daya pukul, dan tenaga yang sangat dahsyat menuju tercapainya tujuan secara cepat. Kita mungkin pernah melihat disekitar kita, ada beberapa orang yang terampil menerapkan sikap ikhlas dalam hidupnya. Kita mendengar keajaiban yang mereka alami dalam lingkungan sosial dan keluarganya, keberuntungan yang mereka temukan dalam bisnis dan berbagai hal lain yang sepertinya tak masuk akal. Tapi semua itu bisa dimengerti, karena begitu kita mengikhlaskan sesuatu, maka kita telah menyerahkan hal itu kepada Yang Maha Kuasa sehingga kecerdasan Tuhanlah yang bekerja pada diri kita dengan mekanisme yang sulit dipahami oleh pikiran manusia.
Ketika manusia benar-benar ikhlas, saat itulah doa atau niatnya ”berjabat tangan” melakukan kolaborasi dengan energi vibrasi quanta. Sehingga, melalui mekanisme kuantum yang tak terlihat, kekuatan Tuhanlah yang sebenarnya sedang bekerja. Inilah arti dari quantum ikhlas. Seperti diriwayatkan oleh Imam Ja’far dalam kitab Al Bihar : ”Apabila seorang hamba berkata : ”Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allaah’ maka Allah menjawab, ’Hai para malaikat-Ku, hamba-Ku telah ikhlas berpasrah diri, maka bantulah dia, tolonglah dia dan sampaikan (pebuhi) hajat keinginannya.”’
Metode quantum ikhlas merupakan suatu metode menata  (memanajemen) gelombang pikiran (otak) dan jantung (hati) untuk mencapai keberhasilan dan kesuksesan hidup yang optimal.
Gelombang otak dapat dibagi menjadi :
  1. Beta (14 – 100 Hz). Dalam frekuensi ini seseorang sedang dalam kondisi terjaga atau sadar penuh dan didominasi oleh logika. Di kondisi ini otak kiri aktif digunakan untuk berfikir dan kosentrasi sehingga merangsang otak untuk mengeluarkan hormon kortisol dan norefinefrin yang menyebabkan cemas, khawatir, marah dan stress.
  2. Alfa (8 – 13, 9 hz). Orang yang sedang rileks, melamun, atau berkhayal gelombang otaknya berada dalam kondisi ini. Dalam kondisi alpha otak memproduksi hormon serotin dan endorfin yang menyebabkan seseorang merasa nyaman, tenang dan bahagia. Hormon ini membuat imunitas tubuh meningkat, pembuluh darah terbuka lebar, detak jantung stabil dan kapasitas indra kita meningkat. Kondisi inilah kita dapat merasakan rasa ikhlas yang membuka akses menuju realitas kuantum
  3. Theta (4-7,9 Hz). Pada frekuensi ini pikiran menjadi sangat kreatif dan inspiratif. Seseorang yang berada dalam gelombang ini berada dalam kondisi khusyuk, relaks yang dalam, ikhlas, pikiran sangat hening dan intuisi muncul. Hal ini dikarenakan otak mengeluarkan hormon melatonin, catecholamine dan AVP (arginine-vasopressin). Di gelombang ini akses ke realitas kuantum akan terasa semakin nyata.
  4. Delta (0,1 – 3,9 Hz). Frekuensi ini memancar saat seseorang tertidur pulas tanpa mimpi, tidak sadar dan tidak berfikir. Di gelombang ini otak mengeluarkan HGH (human Growth Hormon/ hormon pertumbuhan) yang bisa membuat sesorang awet muda. Bila sesorang tidur dalam keaadaaan Delta yang stabil, kualitas tidurnya sangat tinggi, meski hanya tidur beberapa menit, ia akan bangun dengan tubuh tetap merasa segar.
Kehidupan kita ditentukan oleh pikiran dan perasaan. Pikiran dibagi pada pikiran sadar dan bawah sadar. Pikiran sadar menyumbang 12 % dari kekuatan pikiran kita, sedangkan sisanya 88 % kekuatan pikiran adalah dari pikiran bawah sadar. Pikiran sadar diasosiasikan dengan gelombang Beta. Dan bawah sadar diasosiasikan dengan gelombang alfa dan theta. Sayangnya, kita tidak terampil untuk menggunakan kekuatan bawah sadar kita. Betapa tidak, setiap hari kita hanya bergerak di dalam gelombang Beta (bangun tidur langsung berfikir tentang rencana kerja hari ini, kemudian bekerja dan menjalankan aktivitas harian) dan Delta (pulang kerja merasa lelah, mengantuk dan akhirnya tertidur) tanpa melalui Alfa dan Theta.
Kesuksesan kita untuk melakukan perubahan sangat ditentukan oleh kualitas frekuensi otak alfa dan theta kita. Karena dalam kondisi gelombang ini kita bisa membuka akses kekuatan bawah sadar yaitu kekuatan hati (perasaan) kita. Dan saat terbuka itulah kita bisa memasukkan program-program kita yaitu niat dan doa-doa kita.  Karenanya semakin pandai kita masuk ke alfa dan theta semakin mudah pula hidup kita. Kemudahan dalam urusan bisnis dan karier, percepatan proses belajar, penyembuhan diri sendiri, hubungan baik dengan semua orang termasuk mengamalkan perintah agama untuk meraih ketenangan. Inilah mekanisme keikhlasan yang terjadi.

kesadaran fisika kuantum

Tawaran aktivasi otak dengan brainwave kini semakin marak. Bila kita jelajah melalui internet, iklannya banyak sekali. Teknologi neuroscience berupa biofeedback atau biasa disebut juga sebagai neurofeedback kini di Indonesia menjadi komoditas perdagangan umum. Padahal biofeedbacksebenarnya adalah alat kedokteran (medical device), yang oleh Food And Drugs Administration (FDA) suatu badan pengawas obat dan makanan milik Amerika dinyatakan bahwa alat ini dilarang dijual ke masyarakat. Hanya tenaga profesi yang mempunyai lisensi yang berhak menggunakannya. Hal ini demi menjaga keamanan masyarakat. Namun dalam perjalanan waktu perkembangan neuroscience ini banyak diambil alih oleh para meditator untuk mencapai tingkat konsentrasi yang tinggi. Ia kemudian berkembang di kalangan New Ager mancanegara.
Dengan menggunakan musik dan film, para New Ager melakukan meditasi tidak lagi dengan sikap meditasi berdiam diri, namun lebih rileks dalam mengkonsentrasikan diri. Duduk setengah tidur dan menonton film video dan mendengarkan suara . Film video dan musik ini dirancang dengan maksud untuk mengaktivasi otak yang efeknya sebagaimana kondisi meditasi. Terapi ini sering juga disebut Terapi Kuantum asal kata dari fisika kuantum. Dengan cara ini dipublikasi oleh para New Ager ini dapat juga menghasilkan keuntungan luar biasa bahkan bisa mempunyai 1001 manfaat. Mulai dari memperbaiki memori, meningkatkan inteligensi, menstabilkan hormon tubuh, menstabilkan kesehatan fisik dan psikologis, mengurangi stress, menghindari gangguan jiwa dan depresi. Bahkan Deepak Chopra dari California seorang guru New Age berani mengatakan bisa merubah protein di tingkat DNA yang dengan begitu akan merubah dan memutasi kromosom dari genetik kita. Dari sini belum cukup, publikasi yang lebih heboh adalah dengan meningkatkan konsentrasi secara luar biasa maka otak kita akan mengeluarkan gelombang otak. Gelombang ini diceritakan mempunyai kekuatan luar biasa hebat dan dahsyat, karena hanya dengan memanfaatkan gelombang ini kita bisa melihat dibalik tembok, bahkan mengangkat barang yang sangat berat. Dengan gelombang yang mereka sebut gelombang alpha ini kita bisa mempengaruhi orang lain, kita bisa membaca pikiran guru saat menguji kita, dan kita bisa mempengaruhi fisik dan psikis orang lain termasuk mengobatinya. Kita bisa melihat iklannya yang gila antara lain seperti ini .
Tidak percaya? Jika belum percaya maka kelompok penjaja kehebatan ini akan menjelaskan bahwa fenomena itu bisa dijelaskan secara ilmiah, yaitu dengan ilmu fisika kuantum. Ups, tetapi nanti dulu, benarkah suatu kegiatan non-fisika seperti halnya kesadaran, imajinasi, pengalaman mistis, dan sebagainya bisa dijelaskan melalui dalil ilmiah? Fisika kuantum pula. Jawabnya tentu saja tidak. Bisa lihat pernyataan science academic dalam situs ini. Atau penjelasan dari Skeptics Disctionary disini.
Fisika Kuantum yang disalahgunakan
Jika kita menggoogle dengan kata kunci Fisika Kuantum dalam bahasa Indonesia maka kita akan mendapatkan juga informasi penggunaan pemahaman fisika kuantum untuk menjelaskan soal roh, spirit, setan, dzikir, Tuhan, badan astral (roh keluar dari tubuh) bahkan digunakan pula untuk menjelaskan soal mistik seperti santet dan perdukunan. Tetapi ternyata bukan hanya di Indonesia, sebab asal muasalnya pemikiran ini juga bukan dari Indonesia. Tetapi di Indonesia pemahamannya semakin diperluas dan beradaptasi dengan budaya kepercayaan dan religi Indonesia seperti soal santet dan perdukunan tadi. Di luar negeri seperti Amerika dan Eropa, hanya orang-orang yang bergerak dalam dunia spiritual moderen yang lebih banyak menggunakannya, demi memberikan legitimasi dan
legalitas (palsu) bahwa apa yang ditekuni bukan hanya omong kosong yang tidak bisa diuji secara ilmiah. Sekali lagi, demi memberikan legitimasi legalitas (palsu) bahwa apa yang ditekuni bukan hanya omong kosong yang tidak bisa diuji secara ilmiah.
Asal penyalahgunaan itu sebetulnya pertama kali dilakukan oleh Carl Jung, seorang psikiater dan berkebangsaan Swis. Dalam perjalanan kariernya ia selalu mencoba membuat teori-teori psikologi yang kaitannya dengan dunia mistik, misalnya tentang kehidupan sesudah kematian, kehidupan di masa lalu sebelum kehidupan masa kini, dan spiritualisme. Ia berpendapat bahwa spiritualisme adalah hal terpenting dalam kehidupan. Berdasarkan studinya dalam berbagai agama Timur, seperti Budha, Hindu Taoisme, maupun agama Kristen dan Gnotism, ia membangun teorinya bahwa unsur kimia dari transformasi psikologi (spiritual) manusia disimbolkan dari timbal (lead) sebagai jiwa yang belum sempurna menuju emas (gold) sebagai jiwa yang sempurna. Guna menjelaskan persoalan spiritual dan proses transformasi inilah yang kemudian Jung mendapat kritik luar biasa dari para ilmuwan terutama Wolfgang Pauli dan Albert Einstein. Kritik luar biasa itu karena Jung menggunakan teori fisika kuantum.
Sejauh itu, teori Jung ini dalam dunia psikologi hanya menjadi khasanah wacana, karena tidak dapat diaplikasikan sebagai apa yang disebut ilmiah, karena teorinya tidak dapat dilakukan pengukuran secara empirik sebagaimana tuntutan dalam metodologi penelitian ilmiah. Karena itu berbagai aplikasinya dalam terapi psikologi masih termasuk dalam terapi alternatif atau psedo-ilmiah.
Wolfgang Pauli - Carl Jung yang membuat konflik batin Pauli
Wolfgang Pauli adalah seorang profesor ahli fisika asal Austria yang dalam perjalanan karirnya pernah mendapatkan hadiah Nobel. Keahliannya adalah dalam kekhususan fisika kuantum. Fisika kuantum adalah salah satu cabang ilmu fisika yang membicarakan sifat-sifat fisika dari atom dan gelombang (suara maupun cahaya).
Lahir di Wina tahun 1900 dan meninggal di Zurich tahun 1958, setelah beberapa dekade bekerja di Amerika karena adanya perang di belahan Eropa. Di usia 21 tahun ia sudah meraih gelar doktor fisika dengan disertasinya tentang Fisika Kuantum. Ia lah pionir Fisika Kuantum ini, yang dipelajarinya melalui dalil-dalil realitivitas dan gravitasi dari Einstein.
Di usia yang ke 30 ia menikah dengan K├Ąthe Margarethe Dappner yang seorang penari . Tapi belum setahun usia perkawinan itu ia sudah bercerai yang menyebabkannya mengalami depresi yang parah. Oleh ayahnya ia disarankan pergi ke psikiater. Disitulah ia berkenalan dengan Carl Jung. Dalam sesi terapinya Pauli diminta untuk menceritakan berbagai mimpi-mimpinya. Model terapi ini adalah model yang dikembangkan oleh Jung bahwa mimpi adalah pengalaman spiritual yang bisa menjadi akar permasalahan kejiwaan. Pauli menuliskan berbagai mimpinya hingga hingga 1500 halaman, dan sebanyak 400 halaman dipublikasi oleh Jung sebagai bahan studi kasusnya.
Pauli jugalah yang merupakan sumber inspirasi Jung dalam menjelaskan masalah psikis dan spiritual – dimana energy psikis dan spiritual itu kemudian ia identikkan dengan energy atom dan gelombang yang dibahas dalam fisika kuantum, teori yang dikembangkan oleh Pauli. Korespondensi mengenai hal ini dibukukan dalam buku dengan judul Atom and Archetype. Buku ini merupakan Jung-Pauli dialog. Pada prinsipnya dialog ini merupakan problem dari bagaimana dunia fisika diinterpretasikan dalam dunia psikis (physic-psychic). Sekalipun secara intensif Pauli memikirkan bagaimana ide Jung agar dunia psikis dapat dijelaskan melalui pemahaman fisika namun dalam berbagai artikel ilmiah yang ditulis oleh Pauli menjelaskan bahwa kedua dunia itu sangat berbeda baik metodologi dan objeknya. Pauli menyebut masalah yang digarap oleh Jung adalah masalah individu dan kesadaran (consciousness) non-fisik, bukan materi. Sementara itu fisika merupakan pendekatan fisik, materi, experimen, metodologi kuantitatif, dan matematika, yang sama sekali berbeda dengan pendekatan psikologis dari Jung. Konflik ini ia tuangkan dalam sebuah surat kepada Jung di tahun 1939 (Letter to Jung of May 24, 1939. In: Wolfgang Pauli und C. G. Jung. Ein Briefwechsel. Ed. by C. A. Meier (1992). Berlin: Springer, 3 1.)
Pauli sendiri tertarik pada ide Jung bukan sebagai teori tetapi lebih kepada pengalaman dirinya pada masalah kejiwaan dan kefrustrasiannya pada kesulitannya melakukan eksperimental dalam dunia tehnik. Teman dekatnya menjelaskan bahwa nervus-nya Pauli dalam laboraturium lebih disebabkan karena konfliknya antara ide rasional dan non rasionalnya. Dan bagaimana dalamnya pengaruh Jung terhadap kerja ilmiah Pauli dalam dunia fisika ini, menyebabkan Pauli sampai mengalami konflik sendiri dalam dirinya. Ia harus tetap menjaga filosofi dan etika ilmiah yang metodologis, dalam menjelaskan fenomena alam, bahwa sebagian fenomena itu tidak dapat diformulasikan dalam bentuk matematika sebagaimana bidang garapannya, yaitu fisika kuantum. Tetapi Jung terus menerus ingin menunjukkan bahwa dunia spiritual pun bisa dirumuskan dengan matematika dan fisika.
New Ager ikut membonceng Carl Jung
Jika kita membaca berbagai buku-buku para New Ager yang menjelaskan tentang dunia kesadaran (consciousness) dan psychic, kita akan banyak sekali menemukan nama Carl Jung dan penjelasan fisika kuantum. Bahkan sekarang banyak juga yang menjelaskan tentang brain power dan gelombang otak dengan penjelasan fisika kuantum. Jika kita membaca penjelasan itu seolah ilmiah, tetapi sesungguhnya tidak. Karena jika kita mengikuti perkembangan neuroscience sendiri, dunia neuroscience tidak pernah menjelaskannya melalui fisika kuantum. Wacana para New Ager menjelaskan suatu fenomena spiritual dan mistis dengan menggunakan ide-ide Jung tersebut. Sampai-sampai New Ager menyebut Carl Jung sebagai The Father of New Age
Jika Jung lebih menjelaskan secara “teoritis” dunia spiritual dan mistis, para new Ager justru melakukan kegiatan mistis dan spiritual yang radikal. Mulai dari meditasi, selfhealing, hingga melakukan kontempelasi (berimajinasi secara radikal) yang dipercaya dapat mengeluarkan gelombang dahsyat dari otak. Berbagai “teori” Carl Jung tentang psikologi transpersonalnya digunakan sebagai landasan dasar pemahaman spiritual para New Ager, dan brain power yang dahsyat dijelaskan melalui fisika kuantum menurut pemahaman Jung, bukan pemahaman Pauli dan fisikawan itu sendiri. Misalnya saja yang dijelaskan oleh para ahli fisika yang tergabung dalam organisasi The New York Academi of Science, bahwa tidak ada hubungan antara dunia spiritual dengan fisika kuantum.
Maraknya iklan kesehatan berdalih ilmiah brain wave, dan neuroscience, dapat menyembuhkan seribu macam gangguan mulai gangguan psikis, jiwa, dan fisik, dengan aktivasi otak bisa meningkatkan kecerdasan bahkan menjadi jenius, meningkatkan energy otak (brain power), bahkan meningkatkan kepribadian menjadi pribadi unggul, percaya diri, maupun bisa berkelana dengan badan astral (roh) ke tempat-tempat lain, serta mampu menjadikan kita superhuman. Semua itu kini umumnya dijajakan oleh penjaja New Age. Ilmunya yang diusung lagi-lagi “teori”Jung dengan fisika kuantumnya, yang tentu saja hanya sebatas pseudoilmiah alias nonsen.